RSS

Arsip Kategori: Puisi

Tayan Dalam Kenangan


 
IMG_01252013_162434
menatap Tayan dari ketinggian membuat rasa jadi teriris,
ceritanya bagaikan bulir-bulir air mata kesedihan,
namun penuh dengan cinta,
tak terlupakan,
tak terabaikan,
bahkan ketika kaki kembali mengajak pulang.
 
(Tayan, 22 Desember 2012)

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 4 Desember 2013 in Puisi

 

Cinta Syahid


tepian kapuas tayan

Cintaku padamu telah paripurna, pun juga telah termapankan lewat istikhoroh.

Ketika dengan harap ku sampaikan padamu tadi malam.

Saat purnama menjelang sempurna,  di tepi Kapuas saat air pasang.

Saat ku berlutut meminang,  kau hanya mematung dalam bayangan hitam pohonan.

Ada tetesan air bening, di sudut matamu.

Sebuah jawaban,  yang tak terartikan seketika.

Aku menunggu, terus menunggu, tetap menunggu.

Sampai samar ku lihat gelengan lembut itu.

Syahid sudah cintaku padamu.

(Tayan, 24 Desember 2012)

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 4 Desember 2013 in Puisi

 

Aku Cemburu


Aku cemburu,

pada purnama yang menerangi malammu. pada bintang yang menemani lamunmu. pada angin malam yang selalu bersenandung rindu saat mengantar tidurmu.

Aku cemburu,

pada mentari pagi yang mencium keningmu. pada sinarnya yang meronakan pipimu. pada embun pagi yang menjernihkan hitam bola matamu.

Aku cemburu,

pada senyum manis yang kau tebar. pada kharisma yang kau umbar. pada harum tubuhmu yang membuat pejantan bersimpuh.

Aku ingin,

menjadi lentera hatimu di kala purnama tak bersinar, menjadi penghangat di saat mentari enggan menampakkan diri, menjadi pemanis di saat senyummu hambar, menjadi bagian dari separuh hatimu yang tertinggal dalam kenangan.

(Aku ingin menjadi apapun yang kau harap)

Purwokerto, medio september 1993.

 
5 Komentar

Posted by pada 31 Juli 2012 in Puisi

 

Tag: ,

Jangan Pernah Ada Air Mata


Tersenyum sajalah,

karena tangis tak lagi memberi arti. hilang kesan, hilang pula harapan. bertahun lamanya rindu di tahan, hanya menjadikanmu budak cinta sang kumbang.

Pupuskan sajalah,

karena kau tak pantas menyanding asmanya. hati yang patah tak perlu kau rajut, karena benang cinta telah putus di sepanjang penantian.

Bersenandung sajalah,

karena sedihmu hanya penegasan kemenangannya. kau telah terjatuh dalam cinta, bahkan terjerembab. saatnya kini kau bangun dari mimpi pelaminan biru.

Bersyukur sajalah,

karena ada hikmah di balik cinta terkhianat. jangan pernah menunggu lagi. jangan pernah ada cinta lagi. jangan pernah kau pupuk rindu lagi. jangan pernah kau tanam harapan lagi. jangan pernah ada air mata lagi.

(Lan tarji’a al-ayyam al-laty madhat, masa lalu tak kan kembali lagi)

 
6 Komentar

Posted by pada 20 Juli 2012 in Puisi

 

Tag:

Ku


Ku kenangmu, disetiap bercak luka hati yang tercecer disepanjang jejak kerinduan. Seperti angin meniup dedaunan, kau datang dan berlalu dalam kejapan.

Ku mimpimu, disetiap senyum yang kau tebar disepanjang pertemuan. Seperti perahu layar yang membawaku ke tengah lautan, lalu karam bersama badai air mata.

Ku tunggumu, di setiap janji terucap yang kau titip menjelang perpisahan. Seperti nyanyian tidur malam, yang membawaku ke alam mimpi berbunga khayalan.

Ku harapmu, di setiap persimpangan hati yang menanti pinangku. Seperti kumbang yang ragu hinggap di bunga, tak tersentuh lalu layu dalam sendu.

Ku dan segalamu, adalah sepotong kisah pilu pengiring elegi rindu. Syairnya adalah luka. Musiknya adalah duka. Lakonnya adalah aku dan cintaku.

(……maafkan aku, yang hanya menjadikanmu figuran dalam perjalanan hidupku…..)

 
5 Komentar

Posted by pada 17 Juli 2012 in Puisi

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.