RSS

Perahu Karam

06 Jan

danau1

Aku adalah perahu, dan kau adalah danau yang biru.

Tempat aku berlabuh dalam rindu, tempatku menyandarkan segala beban di bahu.

Hari ini kail dan umpan tak menarik minat ikan, hari ini lapar menjadi teman dalam dekapan rembulan.

Aku adalah perahu, dan kau adalah danau tanpa riak.

Senyummu tetap tersimpul, tenangmu adalah gambaran tawadhu.

Tidurmu adalah mimpi yang berwujud nyata esok hari.

Aku adalah perahu, dan kau adalah danau pengharu biru.

Dengan wajah bertabur sejuta cinta, kau tenggelamkan aku dalam dinginnya danaumu.

Dengan wajah berhias senyum, kau rangkul aku dalam dekapanmu

Kau akhiri semuanya……

tanpa tangisan,

tanpa hibaan,

tanpa erangan,

cukup dengan sebotol racun tikus.

Karamlah aku selamanya……..

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Januari 2009 in Puisi

 

6 responses to “Perahu Karam

  1. kweklina

    18 Januari 2009 at 12:04

    terlalu miris kemiskinan dan ketakberdayaan dinegeri kita.

    racun tikus…mereka anggap adalah penyelesaian segalanya

    bukan tak kuat dan mampu…cuma jalan memang tak mereka punya

    Semoga kejadian ini bisa membuat kita bercermin dan lebih peduli mereka

    Aku yakin dimana ada doa, cinta dan kasih, mereka masih memiliki kekuatan untuk tetap menapak jalan dan melalu lembah kehidupan fana

    Mari kita saling membantu dan peduli tuk saling bergengaman tangan menuju dunia penuh damai dan yang lebih bermakna😀

    kenuzi50: mari kita tebarkan kasih tuk sesama,……

     
  2. fairuzdarin

    12 Januari 2009 at 23:10

    Atau jangan-jangan perahu itu banyak tikusnya ya, Kak?🙄

    Sang perahu begitu mencintai sang danau. Semoga mereka bahagia selamanya..

    kenuzi50: hi…hi…hi… kali aja yah, kemarin perahunya gak tak perhatiin ada tikusnya apa ngak. Tapi yang jelas, di dunia keabadian perahu dan danau tidak terpisahkan…. ceileh…… (JADI, SOK ROMANTIS GINI..YAH…)

     
  3. Nug

    11 Januari 2009 at 22:32

    Sesungguhnya puisi ini bisa tetap bisa jadi happy ending yang manis sekali sahabatku.. Tapi kenapa justru racun tikus yang kau gunakan..?😀

    Akh aku hanya menggodamu aja. Juga cuma mau pesen, lain kali racun tikusnya beli yang rasa Mocca donk.. jadi enak gitu, makannya..😀

    kenuzi50: terinspirasi oleh berita sebuah keluarga nelayan, yang berakhir tragis. tragedi kemanusian yang ternyata ada di sekitar kita…. (nanti deh, mas. kalau puisinya terinsprirasi oleh kebunnya rindu, pasti happy ending… isinya tentang ketenangan jiwa dan wewangian bunga… he…he… @buat de rindu dilarang marah….).

     
  4. ernalilis

    10 Januari 2009 at 11:08

    Kok akhirnya sedih begitu… ehmm jadi ikut-ikutan mellow ni..

    kenuzi50: saya seneng membuat orang lain terpeleset di ujungnya…. he…he….

     
  5. omiyan

    7 Januari 2009 at 03:57

    hhmmm jangan dengan racun tikus cukup dengan hilangnya premium kita juga bisa mati hehehehehe

    kenuzi50: Betul banget Om,….. hidup premium (lho….kok…???)

     
  6. isfiya

    7 Januari 2009 at 03:07

    weit…weit…weit… jangan menyerahhhh……………
    Ayo semangat………….
    Salam Kenal….

    kenuzi50: Salam kenal juga, senengnya dapat sahabat baru ………

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: