RSS

Letih (bag. 1)

09 Des

Beberapa hari ini, hati bagai teriris menapaki kembali perjalanan cinta yang penuh liku dan bercabang. Letih rasa hati mencoba merilis ulang, penggalan-pengalan kisah di masa lalu. Setiap potongan kisah yang disusun, malah membuat dada serasa sesak. Tak tersangkakan, ternyata banyak tabir yang terbuka justru ketika semua menjadi sangat terlambat. Andai waktu bisa di ulang kembali. Pasti rasa akan kutata lebih sederhana. Namun tidak menyisakan luka, tidak menderitakan, tidak pula melarakan.

Kini terlanjur sudah. Cerita cinta berceceran dan berserakan di antah berantah. Entah berapa banyak air mata yang telah terurai, atau sedu sedan rasa rindu dalam dendam. Berderet, bersama berlembar-lembar rayuan yang tertulis dalam kertas cinta berbau harum. Bergumul bersama slogan cinta kekanakan “sehidup-semati”-lah, “seia-sekata”-lah, “cinta yang tak pernah berakhir”-lah… atau apapun slogan yang terciptakan berdua dan tersimpan di buku diary, menambah beban rasa bersalah.

Begitu sulitkah memahami arti  cinta ?. Ketika diri telah menjatuhkan hati, menautkan separuh jiwa, dia malah pergi dengan ikrar yang telah terucap bersama. Tak ada kabar, tak jua berita. Dan sebagai ksatria cinta, jangkar cinta tetap ku tancapkan… tak sedikitpun (niat-pun tidak) untuk bergeming ke lain hati. Atas dasar keyakinan cinta, ku tunggu dia tanpa ada tanda jeda….. tetap kutunggu, sampai letih menjemputku…. tetap kutunggu, sampai kutak tahu masih adakah waktu.

Sementara tabir cinta yang terkuak di masa kini, ternyata telah menelantarkan harap dan asa yang tersusun berantai dalam suatu kisah yang sama. Ada yang lain, selain dia. Bukan ku tak suka, tapi hati sudah berjanji setia. Bukan ku tak ingin, tapi rasa sudah ku tebar bersama angin. Aku rela sendiri, tanpa harus ada pemerhati. Aku rela menyakiti diri, karena yakin ada cinta suci. Aku rela untuk tidak mencintai, siapapun itu, kecuali dia.  Ku tetap bertahan atas nama cinta, sementara dia telah menjadi seorang penghianat cinta yang sempurna.

Pernah kujajagi rasa. Kutempuh bermil-mil jauh, meninggalkan apapun yang tersisa. Tuk sekedar memastikan, masih adakah cinta yang diagungkan. Dan, yang kutemukan adalah sepenggal cinta yang rapuh dan tak lagi utuh. Sebuah ikrar yang prematur, yang terlahir tanpa komitmen. Kusudahi semuanya, kularung di derasnya kalimas.

Maafkan aku cinta, telah kusia-siakan kau….

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2009 in Renungan

 

10 responses to “Letih (bag. 1)

  1. dian inayati

    6 Januari 2010 at 08:51

    maafkan aku cinta ..telah kusia siakan kau…. duh bikin GrEgEtttttttt

    kenuzi50: he..he.. gregetan yah…???

     
  2. sunarnosahlan

    30 Desember 2009 at 05:02

    kunjungan pagi mas

    @mas sunar : secangkir teh manis dan sepotong pisang goreng hangat untuk menyambut kedatangan mas sunar di pagi yang mendung ini…

     
  3. abindut

    28 Desember 2009 at 15:45

    mmm
    termenung mencoba untuk memaknai setiap kata yang tertulis………..
    Aduh….
    kok belum juga negerti ya apa maksud tulisannya…
    apa karena masih kecil kali ya… jadi belum begitu ngerti..
    Uhh….
    Kalau gitu balik aja deh…

    @abi: selamat merenung sampai letih… jiakakkkakkkkk….

     
  4. ernalilis

    26 Desember 2009 at 21:14

    Dolan lagi.. sambil membawa jus mangga yang manis buat Kang Uzi yang lagi letih… Semoga menjadi segar kembali…:)

    @mbak e : makasih jus mangga-nya… jus-nya bikin seger… perhatiannya bikin semangat… (tapi kok, jus mangganya agak-agak asem yah… pasti produksi pohon depan rumah nih… he..he..)

     
  5. Hasmayanti Maulana

    23 Desember 2009 at 12:31

    Cinta memang indah sangat dia datang tetapi sangat sakit ketika dia pergi.

    @yanti : dalam kenangan cinta harusnya selalu indah….

     
  6. Hary4n4

    21 Desember 2009 at 04:42

    Untukmu cinta…kupersembahkan segalanya…🙂
    Sampai kapan…??
    Sampai ku tak tau..apa itu cinta…
    *lagi cinta plus bingung karna cinta*

    Apa kabar sobatku, mas koboi…hehehe😀

    @har : koboi lagi mellow… ha..ha…

     
  7. ernalilis

    18 Desember 2009 at 12:02

    Kang.. tahun baru kok mellow sih..:))
    Ayo mana semangatnya..? mana cintanya buat Ernalilis.. ? smile Kang..:))

    @mbak e : rasanya lebih mudah menulis sesuatu yang mellow… biar hati lagi seneng, tetap saja tulisan selalu “sad”..

     
  8. hanif

    17 Desember 2009 at 03:45

    Baru tahu njenengan dah update…
    Jangan letih untuk mencintai mas..(ini cuma cerita fiksi bukan y?)

    @hanif: apa kabar sahabat ? tak kan letih mencintai seorang sahabat seperti hanif… ini hanya fiksi, imaginatif saja…

     
  9. sunarnosahlan

    11 Desember 2009 at 03:56

    Mas Fauzi, istirahat dulu Mas nyantai sejenak , melepas lelah membuang penat

    kenuzi50: iya… mas. makanya jilid2 nya belum di buat… sinopsis buat bahan tulisan….

     
  10. indra1082

    9 Desember 2009 at 14:20

    cinta…oh….cinta…..

    kenuzi50: gimana kabar, mas… lama gak jumpa…. cinta penuh dilema…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: