RSS

Letih (bag. 2)

31 Des

Merangkai kembali puing-puing rasa yang dulu terbina, sesulit menata hati yang terkoyak dan menjadikannya tak sekedar patah tapi lebur menjadi debu. Menyesakkan nafas bathin, ketika ku hapus namamu. Izin-kan ku turut mencampakkanmu, seperti kau mencampakkanku bertahun-tahun lamanya.

Kini, berjalan dalam kesendirian. Menyibak rimbunnya pepohonan beronak dan berduri. Menadahkan tangan, merangkul daun jatuh berguguran. Seakan berharap detik berhenti disini, saat ini. Dan mentari besok tak lagi menampakkan wujudnya.

Tak ada lagi ketegaran cinta yang mampu meluluhlantakkan segala aral melintang. Kerena tegar telah rapuh. Tak ada lagi senyum menyambut sebuah pertemuan. Karena rindu telah layu. Tak ada lagi makna kesetiaan atas nama cinta. Karena setia telah menjadi trauma.

Ingin rasanya ku dendamkan rasa ini pada seseorang yang lain, lalu kupatahkan hatinya. Agar ku tak merasa sengsara sendiri. Atau, kubagikan sejuta pesona seribu harap, pada wanita-wanita yang mengharapkan cinta. Kemudian ku gantung, tak berujung tak berpangkal. Agar mereka tahu bagaimana rasanya menanti sebuah ketidakpastian.

Tapi jangankan untuk berbuat, untuk bisa tetap berdiri saja dan tak terjatuh, rasanya sudah sulit. Lalu bagaimana bisa menyelesaikan hidup hingga berarti dan tak berarti mati ?

Dibutuhkan trik dan pemacu semangat yang tak biasa, agar bisa bangkit dari keterpurukan karena cinta yang membutakan. Fenomena ini ternyata banyak terjadi di kalangan remaja kita. Buku ini coba disusun dalam bentuk novel dan berharap bermanfaat bagi mereka yang tengah terpuruk, atau bisa dinikmati sebagai sebuah cerita fiksi bagi para penggemar novel cerita remaja. Rencananya launching di pertengahan tahun 2010, dengan judul “Pejuang Cinta”. Mohon do’a restunya.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2009 in Renungan

 

5 responses to “Letih (bag. 2)

  1. Antok

    25 Februari 2010 at 09:46

    Ya mas… pengalaman yang sampai saat ini bener2 tertambat….di sudut hati…. hehehe sok romantis ya… tu kata mba’ upik… he

    kenuzi50 : mas antok sama mbak upik, kayaknya satu aliran nih…. ROMANTISME…. he..he…

     
  2. Antok

    19 Februari 2010 at 09:13

    sedih… tapi andai waktu dapat kuputar kembali…. mengisi ruang hati yang selama ini terlewatkan….😥

    kenuzi50 : punya pengalaman indah yah, mas antok…???

     
  3. Antok

    18 Februari 2010 at 08:20

    Dunia serasa mati
    hilang semangat hidup
    Aku rindu padamu
    aku teramat sayang
    Jika ini takdirku
    bolehkah ku berharap
    Semenit waktu ingin kubalas cintamu….

    salam kenal mas kenuzi…..

    kenuzi50 : salam kenal antok, terima kasih buat puisinya…🙂

     
  4. yangputri

    3 Januari 2010 at 16:26

    wedew mantabs banget kata2nya, kisah nyatakah??
    salam kenal😀

    kenuzi50 : terima kasih atas kunjungannya yang ti…. ini cuma coretan ngisi waktu luang…. salam kembali

     
  5. sunarnosahlan

    31 Desember 2009 at 12:52

    mari Mas pompa semangat

    @mas sunar : tetep semangat mas….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: