RSS

Arsip Bulanan: Mei 2014

Sebuah Puisi, Untuk Cinta Yang Tertunda


patah-hati

aku tak mengerti,
mengapa kau teteskan air mata saat aku pergi,
saat kutanamkan rasa rindu tak bertepi,
ku berjanji tuk menjemputmu di hari nanti.
 
aku tak percaya,
kau telah sanggah semua cerita,
semua keindahan yang telah menjadi kenangan,
kau ingkari dihatimu pernah ada cinta.
 
lalu musnah semua keinginan,
hilang sudah semua kepercayaan,
aku berikrar di dalam hati,
tak akan pernah aku kembali.
 
ku tak lagi peduli pada air mata yang mungkin kembali ada,
hanya puisi yang mampu kupersembahkan,
untuk sebuah cinta yang tertunda,
yang layu sebelum menjelma.
 
..ijinkan aku mengingkari, pernah ada rasa diantara kita.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Mei 2014 in Puisi

 

Kau Adalah


gerimis

kau adalah serpihan cerita,
yang menbuat senja menjadi indah,
disaat semua menjadi hambar,
kau adalah obat penawar.
 
kau adalah sebuah cinta yang tak terungkap,
yang membuat tidur menjadi lelap,
disaat mentari musnahkan embun pagi,
kau adalah kenangan yang beranjak pergi.
 
kau adalah sebuah rindu kelabu,
yang membuat kenangan menjadi kelu,
disaat harapan hanya berwujud impian,
kau adalah satu dari sejuta keindahan.
 
biar berkali kau ingkari,
dalam hati kutetep meyakini,
seribu kali kau dusta,
aku hanya bisa berkata…
 
..di hati hati kecilmu pernah hadir cinta.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Mei 2014 in Puisi

 

Menanti Pagi


Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in Mughraqa

Kulewati malam,
berteman gelap dan sepinya sendiri,
kurajut kerinduan pada rembulan,
kuhabiskan sisa cinta di ujung senja.
 
Aku tanpamu,
adalah sampan tak bernahkoda,
mengejar mimpi yang tak bertepi,
berharap senyum di awal pagi.
 
Dingin menghilang,
membawa serta semua cerita,
tinggalkan seribu jejak kenangan,
basuh jiwaku dibeningnya embun pagi.
 
…ini cerita lama, di pagi tanpa cinta.
 
 
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2014 in Puisi

 

Saat Yang Indah, Untuk Berpisah


goodbye

Aku tak tahu bagaimana harus menyampaikannya,
mungkin karena aku benci dengan air mata,
atau karena aku selalu berharap berkata “hai”,
daripada harus berkata “bye'”.
 
Andai semua harapan berujung impian,
untuk apa kita selalu merajut kenangan,
andai semua cerita berujung tangisan,
untuk apa kita selalu pupuk kerinduan.
 
Lalu dimana akan kusemayamkan rasa cinta,
jika di hati kita telah penuh rasa gelisah,
aku tanpamu sangat menyakitkan,
aku denganmu hanyalah sepenggal kisah menyedihkan.
 
 
 
 
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Mei 2014 in Puisi