RSS

Menanti Pagi

10 Mei

Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in Mughraqa

Kulewati malam,
berteman gelap dan sepinya sendiri,
kurajut kerinduan pada rembulan,
kuhabiskan sisa cinta di ujung senja.
 
Aku tanpamu,
adalah sampan tak bernahkoda,
mengejar mimpi yang tak bertepi,
berharap senyum di awal pagi.
 
Dingin menghilang,
membawa serta semua cerita,
tinggalkan seribu jejak kenangan,
basuh jiwaku dibeningnya embun pagi.
 
…ini cerita lama, di pagi tanpa cinta.
 
 
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2014 in Puisi

 

One response to “Menanti Pagi

  1. vindy

    16 Mei 2014 at 15:41

    massssssssss???????????????????????

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: