Beberapa hari ini, hati bagai teriris menapaki kembali perjalanan cinta yang penuh liku dan bercabang. Letih rasa hati mencoba merilis ulang, penggalan-pengalan kisah di masa lalu. Setiap potongan kisah yang disusun, malah membuat dada serasa sesak. Tak tersangkakan, ternyata banyak tabir yang terbuka justru ketika semua menjadi sangat terlambat. Andai waktu bisa di ulang kembali. Pasti rasa akan kutata lebih sederhana. Namun tidak menyisakan luka, tidak menderitakan, tidak pula melarakan.
Kini terlanjur sudah. Cerita cinta berceceran dan berserakan di antah berantah. Entah berapa banyak air mata yang telah terurai, atau sedu sedan rasa rindu dalam dendam. Berderet, bersama berlembar-lembar rayuan yang tertulis dalam kertas cinta berbau harum. Bergumul bersama slogan cinta kekanakan “sehidup-semati”-lah, “seia-sekata”-lah, “cinta yang tak pernah berakhir”-lah… atau apapun slogan yang terciptakan berdua dan tersimpan di buku diary, menambah beban rasa bersalah.
Begitu sulitkah memahami arti cinta ?. Ketika diri telah menjatuhkan hati, menautkan separuh jiwa, dia malah pergi dengan ikrar yang telah terucap bersama. Tak ada kabar, tak jua berita. Dan sebagai ksatria cinta, jangkar cinta tetap ku tancapkan… tak sedikitpun (niat-pun tidak) untuk bergeming ke lain hati. Atas dasar keyakinan cinta, ku tunggu dia tanpa ada tanda jeda….. tetap kutunggu, sampai letih menjemputku…. tetap kutunggu, sampai kutak tahu masih adakah waktu.
Sementara tabir cinta yang terkuak di masa kini, ternyata telah menelantarkan harap dan asa yang tersusun berantai dalam suatu kisah yang sama. Ada yang lain, selain dia. Bukan ku tak suka, tapi hati sudah berjanji setia. Bukan ku tak ingin, tapi rasa sudah ku tebar bersama angin. Aku rela sendiri, tanpa harus ada pemerhati. Aku rela menyakiti diri, karena yakin ada cinta suci. Aku rela untuk tidak mencintai, siapapun itu, kecuali dia. Ku tetap bertahan atas nama cinta, sementara dia telah menjadi seorang penghianat cinta yang sempurna.
Pernah kujajagi rasa. Kutempuh bermil-mil jauh, meninggalkan apapun yang tersisa. Tuk sekedar memastikan, masih adakah cinta yang diagungkan. Dan, yang kutemukan adalah sepenggal cinta yang rapuh dan tak lagi utuh. Sebuah ikrar yang prematur, yang terlahir tanpa komitmen. Kusudahi semuanya, kularung di derasnya kalimas.
Maafkan aku cinta, telah kusia-siakan kau….





