Oleh: kenuzi50 | 8 Februari 2010

Menimbang Rasa

sebelum kujatuhkan hatiku,
sebelum terlanjur kumerindumu,
agar ku tak merasa salah sangka,
agar ku tak merasa cinta sendiri.

izinkan aku menimbang rasa,
andai sama seperti yang ku rasa,
rasamu adalah rasaku,
kan ku titipkan utuh hatiku.

tapi andai rasa ini berbeda,
biarkan ku pendam bersama duka,
agar tak mudah hati terluka,
agar harap tak lagi menjelma.

kutimbang rasa, semoga…

Oleh: kenuzi50 | 4 Februari 2010

Menjelma Sempurna

sebenarnya letih menulis sesuatu yang melankolis. tapi apa daya, ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang belum terkikis habis. masih saja bersemayam di bagian hati yang terdalam, walau semakin hari semakin terpinggirkan.

tak layak rasanya, benang-benang kenangan yang tersulam di masa lalu hendak diurai dimasa kini. mengharap sebuah keajaiban, bahwa waktu bisa berulang dan hati bisa memilih kembali dari awal.

ini sebuah keegoisan rasa. mestinya yang lalu sudah dianggap kadaluarsa. tapi ternyata masih saja bara di genggam, tak sekedar membakar, lambat laun pasti meracuni dan mematikan rasa yang seharusnya ada dan bukan untuk dia.

kewajaran dan pembenaran kadang dijadikan tameng hati. bahwa masa lalu, pahit dan manis pastilah indah dalam kenangan. padahal kenyataan berbicara lain. mestinya cinta tercurah untuk seseorang yang kini setia mendampingi, bukan untuk dibagi ke masa lalu, walau hanya sekedar sekeping hati.

belajar lagi mencintai sebuah hati yang terindah. menulis kembali kisah cinta kekinian tanpa harus terbebani kenangan. merilis ulang rasa yang bersih agar tak lagi tercemar. bahwa kepemilikan cinta yang sekarang dan selamanya, adalah yang terbaik yang bisa di dapatkan.

(maafkan, kalau cinta ini baru menjelma sempurna)

***diperuntukan tuk sahabat-sahabat yang punya masa lalu indah dan tak terwujudkan.

Oleh: kenuzi50 | 3 Februari 2010

Dia Bukan Dia

wajahnya, cerminkan dia
senyumnya, semanis dia
gayanya, seperti dia
matanya, sebening mata dia

tapi,

ketika dia menyapa, mengucap salam
duh, suaranya tak seperti dia
ketika dia menyebut sebaris nama
duh, namanya bukan nama dia

yakinku, kini

Dia Bukan Dia
(pupus sudah harapan)

Oleh: kenuzi50 | 1 Februari 2010

Surat Cinta

Dear,

Ini surat cinta yang ku tulis dengan hati, goresannya penuh kerinduan, kalimatnya adalah syair penyerta rasa sayang. Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kebersamaan yang terjalin harmonis sejak pertama kali kau terima rasa ini.

Sebenarnya ku tak pandai merangkai kata atas nama cinta, karena rasa ini sangat sederhana ketika kupersembahkan padamu. Jadi, maafkan kelancanganku andai menggambarkanmu tak seindah nyatanya.

Pernahkah kau dengar dengup jantungku, ketika kau di dekatku? Disana akan kau rasakan getaran harap dan cemas. Harapku padamu, untuk bisa menerima segala kekurangan yang ku emban. Cemasku, andai ku tak mampu mencukupi rasa cintamu.

Izinkan aku menyebut namamu di sembarang waktu, agar aku selalu memiliki kekuatan untuk berbuat lebih baik, lebih berarti, lebih bermakna. Biar namamu lebih terpatri di hati. Karena di sepanjang perjalanan hidup ini, entah berapa lagi sisa waktu yang harus kita tempuh, tak seorangpun tahu. Yang ku tahu, aku ingin melewati sisa waktu bersamamu.

Di bulan penuh kasih sayang ini, bukan bunga yang ingin kupersembahkan. Karena kuyakin kau lebih indah dari sekuntum bunga. Bukan pula segudang pujian. Karena kaulah segala sanjungan. Aku hanya ingin menyampaikan sebait kata penegasan…. bagiku kasih sayang selalu ada tiap waktu semenjak aku memilihmu…

Bekasi, 01 Pebruari 2010

(tuk istriku : terima kasih telah menjaga cinta kita…)

***di tulis sebagai bentuk partisipasi lomba menulis surat cinta yang di usung sahabat http://idana.blogdetik.com/2010/01/31/berbagi-cinta/

Oleh: kenuzi50 | 30 Januari 2010

Tirai Hujan

ada yang terlewat ketika mendung menangis,
tersembunyi di balik payung hitam,
senyum yang  muncul hadirkan kenangan,
sesaat saja lalu hilang dibalik hujan.

ingin ku tembus kegelapan,
menyibak tirai air yang jatuh dari langit,
tapi jejakmu terhapus genangan,
tak nampak walau terbathinkan.

sesaat ku tunggumu, dua saat masih kutunggu,
tirai hujan tak juga tersibak,
siapakah wanita kerudung putih di balik payung hitam ?
bukan-kah ….. DIA…?

Tulisan Sebelumnya »

Kategori